Silvya Harjanto, Pemilik Pasar Unik89-Kenalkan Budaya Nusantara melalui Boneka Mini

Silvya Harjanto, Pemilik Pasar Unik89-Kenalkan Budaya Nusantara melalui Boneka Mini

Harian SEPUTAR INDONESIA Friday, 16 December 2011

 

Silvya Harjanto saat mengikuti Pasar Indonesia Goes to Mall yang diselenggarakan Bank Mandiri di Cilandak Townsquare, Jakarta, pekan lalu.

Kreativitas di masa kanak- kanak menginspirasi Silvya Harjanto menciptakan ragam boneka mini Nusantara. Boneka unik ini mengenakan baju adat dari seluruh provinsi di Indonesia. Tak pernah tebersit dalam benak Silvya Harjanto, 36 tahun, untuk menjadi pengusaha dan membuat boneka.Seperti kebanyakan sarjana di Indonesia,selepas kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Maranatha Bandung, ia bekerja kantoran dan kariernya cukup lancer hingga ia menjabat manajer HRD di sebuah perusahaan automotif.

Di saat Silvya tengah menikmati puncak kariernya,perusahaan mengalami kondisi kurang menguntungkan sehingga terpaksa memecat beberapa karyawan. Kepada Silvya, para karyawan itu mengaku ikhlas di-PHK asalkan mendapat pesangon sebagai bekal untuk mengembangkan usaha kecil- kecilan yang telah dirintis tiap karyawan tersebut. “Lalu saya berpikir, kalau mereka saja sudah berinisiatif merintis usaha, kok saya manajer masih duduk tenang saja tidak punya usaha?”

ujarnya saat ditemui SINDO di stan “Pasar Indonesia Goes to Mall” yang diselenggarakan Bank Mandiri di Cilandak Townsquare, Jakarta, pekan lalu. Sejak itu, di sela-sela kesibukan kantor,wanita berkacamata ini mulai berancangancang mencari usaha sampingan. Ia mengawali dengan menjadi penjual balon dan mainan kitiran impor yang dijajakan secara asongan di kawasan Senayan, Jakarta.

Dari aktivitas berjualan yang biasa dilakoni pada akhir pekan itu, Silvya juga berkenalan dengan beberapa orang yang mengaku tertarik dengan barang yang dijualnya. “Mereka meminta disuplai dengan sistem konsinyasi. Akhirnya, ada beberapa orang yang saya beri konsinyasi mainan kitiran impor. Dari situ saya makin percaya diri bahwa ternyata saya bisa juga membuka usaha,”kenangnya. Sebagai bukti keseriusannya membuka usaha, Silvya menginginkan untuk dapat menghasilkan barang dagangan dari hasil karyanya sendiri.

Selagi memutar otak mencari ide,Silvya teringat,sewaktu SD ia pernah membuat boneka dari botol sampo bekas. Ia mencoba mempraktikkannya lagi, tetapi hasilnya kurang menarik. Semangat Silvya membuat boneka mencuat kembali manakala ia melakukan perjalanan ke China dan melihat banyak boneka mini untuk suvenir.“Saya dari luar negeri membeli banyak suvenir untuk dibagi-bagikan.

Saya berpikir, kenapa tidak membuat sendiri sesuatu yang bisa membuat kita bangga dengan Indonesia, ”ujarnya. Setelah gagal dengan boneka botol sampo, pada Februari 2011 Silvya lantas mencoba dengan bahan baku kayu jati belanda dan bermitra dengan seorang perajin. Si perajin membuatkan badan boneka kayu mini, lalu Silvya mendesain baju boneka dari bahan kain perca, batik, dan pita.

Sementara sang suami, Arief Intianto, membuatkan rambut boneka dari bahan wol. Silvya dan sang suami lantas menamai boneka imut produksi mereka sebagai “Boneka Mini Nusantara”dengannamausaha “Pasar Unik89”. Walaupun mengaku awalnya hanya iseng, Silvya lega karena boneka unik buatannya ternyata cukup banyak peminat dan dicari saking uniknya.

Selain ukurannya yang mini,boneka tersebut unik lantaran masing-masing mengenakan busana adatyangberbeda- beda dari seluruh provinsi di Indonesia.Paling laris adalah boneka yang mengenakan baju adat Bali dan Padang.“Semua provinsi saya sudah bikin, kecuali Papua saya masih kesulitan membuatnya,”ucap dia. Mengingat ukurannya yang mungil, pengerjaan boneka mini harus telaten dan memakan waktu 2–3 jam per satu boneka. Selain ketelatenan, detail pengerjaan baju adat untuk si boneka juga tidak bisa sembarangan.

Ia mencontohkan boneka dengan kostum tradisional wanita Betawi punya ketentuan hanya boleh menggunakan tiga peniti dan posisi konde harus di atas. “Untuk mengetahui detail pakaian baju adat tersebut, saya mencari referensi dari internet dan berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah untuk melihat langsung model rumah adat dan baju adat dari 33 provinsi,”ungkapnya. Bermula dari boneka mini nan unik,Silvya juga mendapat referensi dari rekannya untuk menjadi mitra UKM binaan Bank Mandiri.

Pada April 2011, ia mendapat pinjaman usaha yang disalurkan melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Bank Mandiri. Dana tersebut digunakan Silvya untuk mengembangkan usaha boneka mini, bahkan mulai merambah sepatu lukis unik. Selain berjualan, ia pun mulai aktif membangun jejaring dan mengikuti pameran yang difasilitasi Bank Mandiri. Seiring berkembangnya usaha, pada September 2011 Silvya memutuskan keluar dari pekerjaannya di perusahaan automotif dan memfokuskan usahanya.

“Walaupun omzet masih naik-turun, pilihan saya sudah mantap untuk berwirausaha,” tegasnya. Lantaran pembuatan boneka mini hanya dikerjakan berdua dengan sang suami,dalam sehari Silvya hanya mampu memproduksi rata-rata 4 boneka berbaju adat plus boneka ondel-ondel.Dengan harga jual per boneka Rp45.000–60.000, omzet per bulan yang diraih Silvya rata-rata berkisar Rp3juta. Jika mengikuti bazar atau pameran kerajinan, angka tersebut bisa melonjak hingga Rp5 juta–10 juta.

Jika ada pesanan khusus atau saat akan mengikuti pameran, Silvya biasanya memproduksi boneka mini dengan jumlah lebih banyak dan meminta bantuan tenaga kerja paruh waktu. Contohnya saat ada pesanan khusus dari warga Filipina yang tinggal di Jakarta untuk dibuatkan 1 set (32 item baju adat) boneka mini Nusantara.

“Kalau di pameran, umumnya yang membeli boneka saya memang orang asing.Ini sesuai dengan visi dan misi Pasar Unik89 yang ingin membawa kerajinan tangan Indonesia supaya dikenal luas oleh masyarakat di dalam dan luar negeri,” bebernya. Tak hanya segi bisnis, Silvya juga memikirkan aspek sosial dengan merangkul para perajin di desa-desa tertinggal di kawasan Bogor dan Bandung.

Selain itu,Silvya juga berencana memberi pelatihan kerajinan tangan kepada sejumlah anak-anak dengan keterbatasan mental dan para penghuni lembaga pemasyarakatan. Ke depan, ia ingin usaha boneka mini dan sepatu lukisnya berkembang menjadi besar, bahkan bisa memasuki pasar ekspor dan dapat merangkul perajin lebih banyak lagi. (inda susanti)

Share