Darul berbekal peta Jakarta tawarkan dagangan (2)

Setelah hijrah ke Jakarta, Darul Mahbar memulai usaha dengan menjadi pemasok gula aren dari Bengkulu. Seiring berjalannya waktu, ia pun mengintip peluang yang lebih manis dalam bisnis olahan jahe merah. Mulai dari dunia maya, peminat olahan jahe merah Darul kian tumbuh. Atas permintaan konsumen, ia pun melabeli produknya.

Lahir di Lubuklinggau, Sumatra Selatan, 23 Desember 1970, Darul melanjutkan sekolah tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 1989. Di sana, ia menemukan sang pujaan hati yang kemudian menjadi istrinya. Setelah lulus kuliah, Darul pun memutuskan kembali ke kampung halaman dan bekerja di sebuah bank daerah mulai tahun 1995 sebagai account officer.

Setelah bekerja selama hampir 13 tahun di bank tersebut, Darul mengundurkan diri dari profesinya sebagai bankir. Pada 1 Februari 2008, ia resmi mengundurkan diri dengan jabatan terakhir sebagai direktur. “Saya sudah merasa mentok selama bekerja di bank,” akunya.

Ketika ada tawaran dari salah seorang temannya untuk berwirausaha di Jakarta, Darul pun mempertimbangkannya. Ia memutuskan hijrah ke ibukota. Darul menetapkan hati untuk menjadi seorang wirausaha dan meninggalkan jabatannya sebagai direktur karena ia merasa potensi yang dia miliki tidak akan dimanfaatkan optimal kalau tetap menjadi pegawai.

Selain itu, Darul menganggap berada dalam suatu zona nyaman dalam jangka waktu lama justru akan berdampak negatif. “Saya masih ingin terus berkembang,” ujarnya. Apalagi ia merasa hidup di kota kecil tidak akan menambah koneksinya.

Namun, Darul dan temannya sama-sama belum memiliki ide tentang bisnis yang akan mereka kembangkan di Jakarta. Memang banyak kemungkinan usaha di Jakarta, tapi mereka tetap harus mempertimbangkan secara matang.

Darul pun mencoba menjadi pemasok gula batok atau gula aren dari Bengkulu bagi penjual pempek di Jakarta. Selain karena mengenal dengan baik produsen di Bengkulu, Darul juga melihat prospek dari ramainya toko penjual pempek di Jakarta.

Ia merintis sendiri usaha ini dengan mengandalkan peta Jakarta. Darul berkeliling untuk menawarkan pasokan gula aren di hampir seluruh toko pempek di Jakarta. “Saya yang angkut sendiri gula arennya,” kenangnya.

Meski susah, ia banyak belajar dari pengalaman baru selama tiga bulan itu. Darul pun tidak memikirkan posisinya yang dulu mantan direktur bank. Setelah memperoleh beberapa pelanggan tetap, Darul pun tidak perlu berkeliling lagi. Ia cukup mengirimkan gula ke alamat tujuan.

Sambil menjalankan usaha sebagai pemasok gula, Darul juga mencoba jadi pemasok jahe merah. Berawal dari ketidaksengajaan memperoleh pasokan jahe merah yang di bawah standar, ia malah menemukan peluang bisnis yang lebih basah. Dengan menggunakan peralatan seadanya, Darul mengolah bahan jahe merah menjadi minuman hangat yang nikmat. Sebagai langkah awal, ia menawarkan produk olahan jahe merah via internet. “Saat itu ditawarkan dalam bentuk jahe curah, tidak menggunakan merek,” ujarnya.

Ternyata tawaran via dunia maya ini memperoleh respon yang cukup baik, khususnya di Jakarta. Darul sendiri yang langsung turun tangan mengantarkan pesanan olahan jahe merah tersebut. Perlahan tapi pasti, para peminat olahan jahe semakin banyak. Darul mengaku promosinya sangat terbantu media dunia maya yang banyak diakses anak muda.

Darul juga memasarkan produk olahan jahe merah, yang dikemas dalam stoples melalui guru mengaji anaknya. “Produk ini sangat aman dikonsumsi berbagai kalangan,” ujarnya. Responnya sangat baik, bahkan para konsumen meminta produk Darul ini diberi merek.

Hal ini membuat Darul semakin bersemangat mengembangkan bisnis jahe merah. Maka ia pun mulai melakukan riset lebih dalam lagi soal manfaat dan khasiat jahe merah. Informasi yang penting tersebut akan ditempelkan pada label stoples. Darul pun memilih nama Cangkir Mas sebagai merek produknya.

Setelah diberi merek, permintaan produk olahan jahe merah lebih tinggi dibandingkan dengan gula aren yang merupakan bisnis awal Darul. Namun, ia tidak serta merta meninggalkan bisnis gula aren, karena tetap memiliki prospek. “Setidaknya bisnis itu sebagai pijakan awal,” jarnya. (Bersambung)

Sumber: www.kontan.co.id

Share