Indah Fashion, Belanja Online yang Efektif

Indah Fashion hadir tahun 2007. Berdirinya toko ini, berawal dari pengalaman seorang ibu muda. Sang pemilik toko online dan offline ini tak lain adalah Indah Lestari SP yang sempat bekerja di PT Bank Mandiri Bagian Consumer Loan di Plaza Bapindo. Indah, yang saat itu adalah seorang ibu muda, ketika memasuki kehamilan trisemester, ia kesulitan mencari pakaian hamil muslim, pakaian dalam orang hamil yang modis tapi harga terjangkau.

Dari pengalaman pahit itu, menjadi inspirasi baginya untuk membuka usaha Indah Fashion untuk untuk membantu ibu hamil, ukuran besar, menyusui, sampai balita. Saat membuka usaha ini, Indah memberanikan diri mengorbankan pekerjaan lamanya di Bank Mandiri, ia pun resign. Awalnya dari membuka toko (secara offline), kemudian ia tertarik melihat sang Kakak, Avip Driesner yang bersuamikan orang Jerman, yang lebih dulu membuka usaha gaun wanita yang sudah Internasional di Jerman.

Indah yang juga pernah belajar di model Ratih Sanggarwati ini, sempat bertandang ke Jerman dan melihat kehidupan masyarakat Jerman yang membeli kebutuhan secara online. Ia takjub dengan cara orang Jerman berbelanja secara online, yang efektif dan efisien. Sepulangnya dari Jerman, akhirnya Indah mendirikan Produk Indah fashion yang bisa dibeli secara online. Meski ia juga membuka toko offline, tetapi diakuinya bahwa toko online jauh lebih efektif dalam memasarkan produk-produknya.

Hadirnya Indah Fashion, memudahkan para ibu hamil juga para ibu yang sedang menyusui, atau wanita dengan ukuran badan normal yang sedang bekerja. Produk Indah Fashion saat ini sudah menyediakan berbagai variasi pakaian, gaun hamil tangan panjang, pendek, gaun wanita ukuran biasa, baju bayi-balita branded untuk pesta, formal, santai, apron (cover menyusui), pakaian dalam berwarna hamil, ukuran besar dan menyusui, termasuk lingerie sexy, gurita, stagen hamil dan stagen melahirkan dengan harga terjangkau , modis dan bahan yang nyaman. Biaya Produk Indah Fashion ditambah dengan ongkos kirim ke luar kota masih di bawah harga di mall-mall Jakarta.

Mulai tahun 2010, Indah Fashion mengembangkan usahanya ke bidang fashion branded wanita dan pria. Dari tas, sepatu,sandal seperti lv,bottega,balenciaga,guess, dll.

Sumber website pelitanews.com

Profil Indah Fashion sudah dipublikasikan media cetak dan elektronik (internet), yaitu Majalah Pebisnis 25, Blog Tabloid Nova, Majalah Wirausaha & Keuangan (WK), Website TDA (Tangan Di Atas), Indah Fashion di Tribunnews.com, PelitaNews.com. Pemenang gift kompetisi ide bisnis Nova Agustus 2010.

Kegiatan 2011
– Usaha http://indahfashion.blogspot.com & http://butikbranded.com
– Penulis Buku Bunda Tahan Banting. Tips Jadi Ibu Rumah Tangga Penting &jago berbisnis.
– Sedang mengikuti kompetisi
http://startupicon.com/indah-lestari
– Kadang-kadang hadir di  TDA Jakbar http://tdajakbar.com
– Seminar,training lainnya menambah dan meningkatkan pengetahuan dan Ketrampilan.
– Paling utama mengurus keluarga.

Share

Omzet Besar dari Toko Mungil

KREATIVITAS dan keuletan menjadi kunci bisnis online. M Agung Budi Priyambodo (31) menjual bunga lewat internet dengan modal Rp 100.000. Omzetnya kini mencapai Rp 60 juta/bulan.

Hampir 90 persen, pembeli pesan bunga lewat situs Google. Tapi, sebenarnya saya sekarang lebih senang terima order langsung. Karena bila kita dikenal lewat promosi dari mulut ke mulut, itu menunjukkan konsumen puas dengan produk dan layanan kita,” ujar Agung, pemilik usaha TokoBungaOnline.Net/BungaHati.Com kepada Warta Kota saat ditemui di kantornya di Kebonjeruk, Jakarta Barat.

Kantor itu disewa sejak dua tahun lalu. Sebelumnya, Agung punya toko di gang kecil di dekat Pasar Bunga Rawabelong.

Agung juga punya kantor pemasaran di Toko Elemen Listrik, HWI Lindeteves milik temannya di Jalan Hayam Wuruk. “Namun karena dianggap unik, jualan bunga di toko listrik, saya malah diliput stasiun TV,” kata bapak satu anak ini.

Ketika Warta Kota menyambangi kantornya di Jalan Isa, suasananya tampak sepi. Hanya kelihatan seorang berseragam TokoBungaOnline.Net yang sibuk bekerja di depan komputer. Kantor mungil itu, kata Agung, disewa Rp 15 juta/tahun. Jaraknya hanya sekitar 200 meter dari Pasar Bunga Rawabelong.

“Alhamdulillah, dibanding teman-teman yang berdagang di pasar, omzet kami tidak beda. Omset kami sekarang sekitar Rp 60 juta per bulan. Itu karena pasar kami tersebar di beberapa daerah sampai luar negeri seperti Singapura,” timpal Elyana, istri Agung, yang sejak setahun terakhir aktif membantu mengelola bisnis bunga tersebut.

Berbeda dengan jualan bunga di pasar yang butuh modal relatif besar, berjualan secara online modalnya seadanya. “Kalau di pasar beli tokonya saja sudah sekitar Rp 200 juta. Sementara suami saya memulai usahanya empat tahun lalu, dengan modal Rp 100.000 untuk beli domain dan hosting,” ujar Elyana.

Saat membangun bisnis bunga online, Agung masih bujangan dan bekerja sebagai karyawan medical representative sebuah perusahaan farmasi milik asing.

Dari majalah

Pria kelahiran Pulau Belitung itu, mengaku mendapat ide usahanya setelah membaca sebuah majalah yang mengangkat sosok seorang pedagang bunga yang memiliki omzet Rp 150 juta per bulan.

“Sambil menunggu dokter di rumah sakit untuk menawarkan obat, saya baca majalah. Dari situlah, saya dapat ide usahanya. Saya ingat ibuku juga suka bunga. Maka, dengan membaca Bismillahirrahmanirrohim setelah pulang kerja, malam itu juga saya langsung ke warnet beli domain TokoBungaOnline.Net,” ujar Agung.

Untuk branding, Agung memakai nama BungaHati.Com. Nama itu mengandung nama ibunya, Ati (Sudiyati). Tekad Agung ingin mengharumkan nama keluarga lewat bisnis bunga. Dia juga mengambil hari kelahiran ibunya, 17 April sebagai ultah BungaHati.Com. Agung sendiri memulai usahanya pada 14 Maret 2006.

Pengalamannya bekerja di Solo sebagai pembuat website perusahaan, dia aplikasikan saat membangun bisnis itu. “Saya daftar ke search engine lalu aktif dalam kegiatan di milis-milis. Semua kegiatan itu saya lakukan dari kamar kos,” katanya.

Kreativitas, kesabaran, dan keuletan membuat usaha Agung perlahan bergerak naik. Dia juga memanfaatkan waktu libur di hari Sabtu dan Minggu untuk mencari ilmu tentang bunga di Pasar Rawabelong. Dia juga membeli beberapa foto rangkaian bunga untuk ditayangkan di web-nya.

“Lucunya order pertama saya justru bukan dari online. Tapi dari dokter kenalan saya. Dia pesan handbouquet untuk ultah istrinya. Saya minta satu toko bunga di Rawabelong untuk membuatnya dengan arahan kreatif dari saya. Saya memang kerja sama dengan toko itu. Modal saya Rp 70.000, saya jual Rp 90.000. Saya senang. Setelah jadi bunganya saya antar sendiri,” ujar Agung yang kini memiliki delapan orang tenaga kerja.

Order itu diperolehnya setelah bisnisnya berjalan sekitar tiga minggu. Berikutnya, dia baru mendapat order dari Sulawesi lewat situs Google.

“Awalnya perkembangan bisnis saya agak lambat karena belum fokus. Saya dapat omzet Rp 3 juta pada bulan ketiga. Lalu, perkembangan penting lain, saya tidak menyangka menjelang Hari Valentine, saya kebanjiran order. Dari situ saya mulai berpikir untuk resign kerja. Saya mau fokus bisnis,” ujar Agung. (Herry Sinamarata)

sumber : www.wartakota.co.id

Share

Jago TI yang Memilih Jadi Florist

Perjalanan hidup seseorang memang tak mudah diterka. Pengusaha yang satu ini mulanya menekuni bidang teknologi informasi (TI). Tetapi, nasib justru mengantarkannya menjadi juragan bunga alias florist. Menariknya, usaha tersebut dibangun dari sebuah toko online. Bagaimana lika-likunya?

Mulutmu harimaumu. Begitu M. Agung Budi Priyambodo, pemilik bungahati.com, teringat dengan kalimat yang ternyata justru menjadi bumerang bagi dirinya. Waktu itu, Agung baru lulus sarjana ekonomi dari Universitas 11 Maret, Surakarta, dan merasa senang dengan profesinya sebagai desainer di salah satu perusahaan advertising di kota Solo.

Agung mengaku mengenal TI sejak kuliah. “Waktu itu internet belum booming, tapi saya tertarik dengan bidang ini (TI). Saya lalu belajar secara otodidak, baik dari buku, teman-teman, bahkan pernah kursus private belajar cara membuat website. Dari sinilah saya mengenal dunia desain. Masuk dunia kerja, saya diterima di bagian desain di perusahaan advertising,” cerita Agung saat ditemui HC di workshop-nya di daerah Rawa Belong, Jakarta Barat.

Mulanya, ia bertekad untuk tidak menginjakkan kaki di Jakarta. “Saya yakin bisa sukses di Solo,” ujarnya sesumbar. Ternyata, hidup tak seindah yang dibayangkan. “Keadaan yang akhirnya mengantarkan saya masuk ke Ibukota pada 2004 dengan niat memperbaiki nasib,” kenangnya. Bagi pendatang baru sepertinya, Jakarta tidak terlalu bersahabat. “Saya terpaksa menumpang di kontrakan teman sambil melamar pekerjaan. Sebelum dapat pekerjaan, saya nimbrung ikut ngamen bersama teman-teman di bus AC jurusan Grogol-Bekasi,” ujarnya.

Harapan Agung yang tinggi untuk sukses, merupakan pil pahit yang harus ditelannya terlebih dahulu. “Akhirnya, saya mendapat pekerjaan menjadi tukang setting lagi. Saya berpikir, kalau kayak begini apa bedanya dengan bekerja di Solo?” tanyanya dalam hati.

Ia pendam keinginannya dan terus berusaha mencari informasi. Dari temannya ia mendapat peluang di sebuah perusahaan farmasi yang membuka lowongan pekerjaan. “Mendaftarlah saya, tapi masih di bidang TI. Saya tidak lama di perusahaan tersebut karena statusnya hanya karyawan kontrak. Setelah habis kontraknya, saya keluar. Beruntung saya mendapat pekerjaan baru, tapi – lagi-lagi – menjadi tukang setting di daerah Roxy, sebagai desainer kaca,” tuturnya.

Sebagai tukang desain, Agung merasa dirinya tidak berkembang. Ia lalu mencari lowongan melalui koran, hingga matanya tertubruk pada sebuah pengumuman lowongan di bagian marketing. “Saya masuk ke perusahaan tersebut dan kali ini saya merintis sebagai sales produk farmasi berupa alat kontrasepsi. Di sinilah saya dididik menjadi tenaga penjual, cara berbicara kepada calon pelanggan serta bagaimana teknik penjualan. Mata saya terbuka, bisa jualan itu sangat penting,” katanya.

Inspirasi berbisnis ia dapatkan secara tak sengaja. Ceritanya, suatu hari Agung yang kini beralih profesi sebagai medical representative (medrep), menunggu dokter untuk memprospek klien di salah satu rumah sakit internasional di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat. “Yang namanya sales obat harus menyesuaikan dengan jadwal dokter. Nah, di waktu senggang saya merenung, mau ke mana nasib saya? Saya berpikir, kalau begini terus saya kurang berkembang. Kalau mau berubah, saya harus melakukan terobosan. Saya ingin memuliakan ibu, dan saya teringat kalau ibu saya suka bunga. Nah, kenapa tidak berbisnis bunga saja?” pikir Agung saat itu.

Sepulang dari rumah sakit, Agung langsung ke warnet untuk beli domain. Ia bela-belain meminjam kartu kredit temannya untuk membeli domain sekitar Rp 70 ribu. “Untuk menghemat saya sewa hosting selama tiga bulan seharga Rp 5.000 per bulan untuk tes pasar. Yang penting, saya harus punya usaha sendiri meskipun toko online,” ujarnya.

Guna melengkapi tokonya, Agung membeli foto-foto bunga di Pasar Bunga Rawa Belong untuk dipajang di internet sebagai katalog. “Seminggu saya rancang desainnya, kemudian saya upload ke website. Memang, tidak langsung mendapat order karena saya sendiri tidak fokus dan masih menyambi kerja,” tuturnya.

Meski belum terasa hasilnya, Agung meneruskan langkah-langkahnya. Berbekal uang Rp 750 ribu dari bonus bulanannya, ia membuat katalog yang ia tunggui dari pagi sampai malam di percetakan di daerah Grogol. “Menariknya, setelah katalog jadi, saya bingung mau diapakan. Mau menawari ke orang, saya masih malu. Akhirnya, saya kasih ke teman-teman sesama medrep untuk dititipkan ke kliennya masingmasing,” kenangnya sambil tersipu.

Tidak disangka, order pertama datang dari dokter langganannya. “Waktu itu istri dokter tersebut berulang tahun dan dia mencoba jasa saya. Saya beli bunga di pasar. Tapi, waktu itu saya belum bisa merangkai. Saya punya desainnya dan saya arahkan tukang bunga. Saya beli bahannya Rp 70 ribu dan saya jual ke dokter Rp 90 ribu. Nggak banyak ambil untung, karena dapat order pertama saja senangnya bukan main,” ungkapnya.

Sementara itu, order pertama dari internet ia peroleh setelah usahanya berjalan selama dua bulan, dan berasal dari Sulawesi. “Di sinilah saya merasa yakin bahwa internet bisa menghasilkan uang. Ternyata ada orang yang percaya, padahal dia tidak melihat barangnya,” Agung menambahkan.

Order bunga makin bertambah seiring kepindahannya ke tempat kos yang memiliki fasilitas internet 24 jam. Usai pulang kerja, ia habiskan waktunya untuk online dan aktif di forum-forum internet. Dari pendapatan Rp 3 juta per bulan, penghasilan toko Agung naik terus hingga Rp 7 juta per bulan. Persoalan muncul ketika order datang, di saat yang bersamaan ada meeting di kantor sehingga ada beberapa order yang terlewat. Di sinilah Agung dihadapkan pada pilihan yang sulit, memilih fokus di pekerjaan atau menjalankan usaha sendiri sebagai florist.

Hingga Februari 2007, saat hari valentine, Agung kebanjiran order. Sayangnya, dari sekitar 60 order yang masuk, ia hanya bisa menangani separuhnya. Dari momentum ini saja Agung bisa meraup omset Rp 30 juta, dengan keuntungan bersih mencapai Rp 10 jutaan. Bersamaan dengan perkembangan tokonya, kondisi perusahaan berkata lain. “Perusahaan saya akan merger, dan banyak terjadi perubahan baik di area coverage maupun target yang makin susah untuk dicapai. Sebenarnya, tidak ada masalah dengan perusahaan yang berubah, tapi keinginan saya untuk memiliki usaha sendiri makin kuat. Saya tidak ingin menjadi karyawan terus. Kalau bisa, saya membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain,” ujar pria kelahiran Belitung, 12 Februari 1979, ini menandaskan.

Sumber : (Rudi Kuswanto)

http://www.portalhr.com/majalah/suratpembaca/1id1603.html

Share