Silvya Harjanto, Pemilik Pasar Unik89-Kenalkan Budaya Nusantara melalui Boneka Mini

Silvya Harjanto, Pemilik Pasar Unik89-Kenalkan Budaya Nusantara melalui Boneka Mini

Harian SEPUTAR INDONESIA Friday, 16 December 2011

 

Silvya Harjanto saat mengikuti Pasar Indonesia Goes to Mall yang diselenggarakan Bank Mandiri di Cilandak Townsquare, Jakarta, pekan lalu.

Kreativitas di masa kanak- kanak menginspirasi Silvya Harjanto menciptakan ragam boneka mini Nusantara. Boneka unik ini mengenakan baju adat dari seluruh provinsi di Indonesia. Tak pernah tebersit dalam benak Silvya Harjanto, 36 tahun, untuk menjadi pengusaha dan membuat boneka.Seperti kebanyakan sarjana di Indonesia,selepas kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Maranatha Bandung, ia bekerja kantoran dan kariernya cukup lancer hingga ia menjabat manajer HRD di sebuah perusahaan automotif.

Di saat Silvya tengah menikmati puncak kariernya,perusahaan mengalami kondisi kurang menguntungkan sehingga terpaksa memecat beberapa karyawan. Kepada Silvya, para karyawan itu mengaku ikhlas di-PHK asalkan mendapat pesangon sebagai bekal untuk mengembangkan usaha kecil- kecilan yang telah dirintis tiap karyawan tersebut. “Lalu saya berpikir, kalau mereka saja sudah berinisiatif merintis usaha, kok saya manajer masih duduk tenang saja tidak punya usaha?”

ujarnya saat ditemui SINDO di stan “Pasar Indonesia Goes to Mall” yang diselenggarakan Bank Mandiri di Cilandak Townsquare, Jakarta, pekan lalu. Sejak itu, di sela-sela kesibukan kantor,wanita berkacamata ini mulai berancangancang mencari usaha sampingan. Ia mengawali dengan menjadi penjual balon dan mainan kitiran impor yang dijajakan secara asongan di kawasan Senayan, Jakarta.

Dari aktivitas berjualan yang biasa dilakoni pada akhir pekan itu, Silvya juga berkenalan dengan beberapa orang yang mengaku tertarik dengan barang yang dijualnya. “Mereka meminta disuplai dengan sistem konsinyasi. Akhirnya, ada beberapa orang yang saya beri konsinyasi mainan kitiran impor. Dari situ saya makin percaya diri bahwa ternyata saya bisa juga membuka usaha,”kenangnya. Sebagai bukti keseriusannya membuka usaha, Silvya menginginkan untuk dapat menghasilkan barang dagangan dari hasil karyanya sendiri.

Selagi memutar otak mencari ide,Silvya teringat,sewaktu SD ia pernah membuat boneka dari botol sampo bekas. Ia mencoba mempraktikkannya lagi, tetapi hasilnya kurang menarik. Semangat Silvya membuat boneka mencuat kembali manakala ia melakukan perjalanan ke China dan melihat banyak boneka mini untuk suvenir.“Saya dari luar negeri membeli banyak suvenir untuk dibagi-bagikan.

Saya berpikir, kenapa tidak membuat sendiri sesuatu yang bisa membuat kita bangga dengan Indonesia, ”ujarnya. Setelah gagal dengan boneka botol sampo, pada Februari 2011 Silvya lantas mencoba dengan bahan baku kayu jati belanda dan bermitra dengan seorang perajin. Si perajin membuatkan badan boneka kayu mini, lalu Silvya mendesain baju boneka dari bahan kain perca, batik, dan pita.

Sementara sang suami, Arief Intianto, membuatkan rambut boneka dari bahan wol. Silvya dan sang suami lantas menamai boneka imut produksi mereka sebagai “Boneka Mini Nusantara”dengannamausaha “Pasar Unik89”. Walaupun mengaku awalnya hanya iseng, Silvya lega karena boneka unik buatannya ternyata cukup banyak peminat dan dicari saking uniknya.

Selain ukurannya yang mini,boneka tersebut unik lantaran masing-masing mengenakan busana adatyangberbeda- beda dari seluruh provinsi di Indonesia.Paling laris adalah boneka yang mengenakan baju adat Bali dan Padang.“Semua provinsi saya sudah bikin, kecuali Papua saya masih kesulitan membuatnya,”ucap dia. Mengingat ukurannya yang mungil, pengerjaan boneka mini harus telaten dan memakan waktu 2–3 jam per satu boneka. Selain ketelatenan, detail pengerjaan baju adat untuk si boneka juga tidak bisa sembarangan.

Ia mencontohkan boneka dengan kostum tradisional wanita Betawi punya ketentuan hanya boleh menggunakan tiga peniti dan posisi konde harus di atas. “Untuk mengetahui detail pakaian baju adat tersebut, saya mencari referensi dari internet dan berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah untuk melihat langsung model rumah adat dan baju adat dari 33 provinsi,”ungkapnya. Bermula dari boneka mini nan unik,Silvya juga mendapat referensi dari rekannya untuk menjadi mitra UKM binaan Bank Mandiri.

Pada April 2011, ia mendapat pinjaman usaha yang disalurkan melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Bank Mandiri. Dana tersebut digunakan Silvya untuk mengembangkan usaha boneka mini, bahkan mulai merambah sepatu lukis unik. Selain berjualan, ia pun mulai aktif membangun jejaring dan mengikuti pameran yang difasilitasi Bank Mandiri. Seiring berkembangnya usaha, pada September 2011 Silvya memutuskan keluar dari pekerjaannya di perusahaan automotif dan memfokuskan usahanya.

“Walaupun omzet masih naik-turun, pilihan saya sudah mantap untuk berwirausaha,” tegasnya. Lantaran pembuatan boneka mini hanya dikerjakan berdua dengan sang suami,dalam sehari Silvya hanya mampu memproduksi rata-rata 4 boneka berbaju adat plus boneka ondel-ondel.Dengan harga jual per boneka Rp45.000–60.000, omzet per bulan yang diraih Silvya rata-rata berkisar Rp3juta. Jika mengikuti bazar atau pameran kerajinan, angka tersebut bisa melonjak hingga Rp5 juta–10 juta.

Jika ada pesanan khusus atau saat akan mengikuti pameran, Silvya biasanya memproduksi boneka mini dengan jumlah lebih banyak dan meminta bantuan tenaga kerja paruh waktu. Contohnya saat ada pesanan khusus dari warga Filipina yang tinggal di Jakarta untuk dibuatkan 1 set (32 item baju adat) boneka mini Nusantara.

“Kalau di pameran, umumnya yang membeli boneka saya memang orang asing.Ini sesuai dengan visi dan misi Pasar Unik89 yang ingin membawa kerajinan tangan Indonesia supaya dikenal luas oleh masyarakat di dalam dan luar negeri,” bebernya. Tak hanya segi bisnis, Silvya juga memikirkan aspek sosial dengan merangkul para perajin di desa-desa tertinggal di kawasan Bogor dan Bandung.

Selain itu,Silvya juga berencana memberi pelatihan kerajinan tangan kepada sejumlah anak-anak dengan keterbatasan mental dan para penghuni lembaga pemasyarakatan. Ke depan, ia ingin usaha boneka mini dan sepatu lukisnya berkembang menjadi besar, bahkan bisa memasuki pasar ekspor dan dapat merangkul perajin lebih banyak lagi. (inda susanti)

Share

Teh Sirih Merah Segar & Berkhasiat

Liputan Majalah Agrofarm – TehSirihMerah.com

Liputan Majalah Agrofarm

Teh Sirih Merah
Segar & Berkhasiat

SIRIH MERAH DIKENAL ORANG KARENA KEINDAHAN DAUNNYA. MENYERUPAI BENTUK HATI DAN BERWARNA MERAH KEPERAKAN JIKA TERKENA CAHAYA. TAPI TERNYATA TIDAK HANYA ITU. TANAMAN YANG TUMBUH MERAMBAT INI TELAH LAMA DIKETAHUI MEMILIKIBANYAK KHASIAT UNTUK PENGOBATAN. PENYAJIANNYA SEDERHANA. MULAI DARI DIREBUS HINGGA DIJADIKAN EKSTRAK. DAN YANG TERBARU ADA DALAM BENTUK KEMASAN TEH CELUP.

Adalah Henri Kristiantoro yang melakukan itu.CEO teh sirih merah ini berbagi cerita mengenai produk herbal ini. Ditemui Argofarm di kediamannya didaerah Meruya Selatan, Jakarta Barat, Lelaki ini bercerita banyak tentang produknya itu.
Menurutnya, semua itu berawal dari kesenangan ibunya terhadap tanaman sirih merah yang ditahun 2009 booming sebagai tanaman hias.Henri pun mulai mencari informasi ke herbalis di Yogyakarta mengenai khasiat tanaman ini. “kata mereka (Herbalis), iya, tanaman sirih merah ini bagus. Mereka juga sedang melakukan riset untuk pembuatan teh dan ekstrak herbalnya. Kemudian saya perbanyak, daunnya saya budidayakan dan saya hubungu mereka. Mereka ambil lalu dibuatlah teh sirih merah ini,” ucap dia.
Lokasi perkebunan sirih merah berada di Bntul, Yogyakarta, dengan luas lahan 200meter2. Pasca erupsi gunung merapi, abu vulkanik menutupi seluruh lahan perkebunan, sehingga tanaman herbal ini tidak dapat diolah. Namun saat ini sedang dibudidayakan lagi. Daun sirih merah yang diolah adalah daun yang memiliki kelebaran sekitar 8-12 cm, berusia 6 bulan setelah penanaman.
Teh sirih merah dikemas dalam bentuk teh sirih merah seperti teh celup biasa. Untuk menghilangkan pahitnya, maka teh sirih merah dicampur dengan beberapa tanaman herbal lainnya seperti daun teh, curcuma xanthorrhiza rhizome (temulawak), Centella herba (pegagang), Zingiberis Rhizome (jahe), Talinun sp.,dan daun pappermint. “Sirih merah ini kan pahit. Kalau direbus saja, itu rasanya pahit sekali, saya pernah coba,”aku henri.
Khasiat
Khasiat sirih merah sudah bukan rahasia lagi. Henri pun sudah merasakannya sendiri. Bapak satu anak ini sering mengalami maag akibat tingginya asam lambung. Setelah meminum air rebusan daun sirih merah, ia merasa lebih baik. Tidak hanya air rebusannya, Henri juga mengkonsumsi ekstrak sirih merah untuk pengobatannya. Hasil endoskopi yang dilakukannya setelah meminum ekstrak sirih merah, menunjukkan perkembangan yang jauh lebih baik dibandingkan sebelum meminum ekstrak tanaman herbal ini. Kini penyakit maag yang dideritanya sudah jarang kambuh.
“Bahkan ada konsumen saya, dia juga minum teh sirih merah untuk pengganti teh biasa. Kembung yang dideritanya perlahan hilang setelah rutin meminumnya setiap pagi,”tutur Henri.
Setelah mengatasi maag dan perut kembung, sirih merah terbukti menurunkan kadar gula dalam daranpada penderita diabetes. Khasiatnya dirasakan dalam kurun waktu 1-2 minggu setelah mengkonsumsi ekstrak sirih merah secara rutin. Menurut Henri, khasiat obat herbal akan terasa setelah dikonsumsi sekitar 1-2 minggu, “Kalau minumnya hanya sehari atau dua hari, belum terasa khasiatnya,” lanjut dia.
Teh ini juga berkhasiat untuk menghilangkan rasa nyeri dan pegal pada badan. Reaksinya dapat dirasakan keesokan hari setelah meminumnya. Kelebihan sirih merah adalah kandungan antiseptik, antikanker, antioksidan, serta antidiabetiknya yang tinggi berdasarkan hasil kromotogram. Kandungan antiseptiknya juga dapat mengobati radang usus.
Salah satu konsumen Henri di Bandung mengaku awalnya meminum ekstrak sirih merah untuk mengobali keputihan. Dia sudah mencoba berbagai obat herbal lainnya tapi tidak berhasil. Setelah meminum sirih ini, tidak hanya keputihan yang hilang, tetapi juga kadar kolesterolnya juga turun.
Teh sirih merah aman dikonsumsi untuk siapa saja, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Henri mengatakan, anaknya pun juga meminum teh herbal ini dan tidak ada efek samping yang dirasakan hingga kini.

Pemakaian dan Penyajian
Untuk pengobatan, konsumsi maksimal ekstrak sirih merah sebanyak 3x sehari masing-masing 2 kapsul, normalnya 2x sehari Sedangkan untuk pencegahan dan menjada daya tahan tubuh, tehsirih merah atau 2 kapsul ekstraknya dapat dikonsumsi per hari.
Teh sirih merah dapatdisajilan panas maupun dingin. Kalau tidak menderita diabetes boleh ditambahkan madu atau gula seperti penyajian teh biasa.

Bisnis Herbal
Menurut Henri, bisnis herbal perkembangannya sangat bagus dan prospektif. Itu karena masyarakat mulai sadar bahwa obat-obatan kimia sebenarnya berbahaya untuk tubuh. Obat kimia hanya menyembuhkan sesaat dan merusak organ tubuh lainnya, seperti hati dan ginjal karena langsung berasal dari bahan kimia. Sedangkan obat herbal yang berasal dari bahan alami mengatasi langsung ke sumber rasa sakit, meskipun reaksinya berlangsung agak lama.
Efek sambing obat kimia lebuh besar dibandingkan obat herbal. Namun bukan berarti obat herbal tidak memiliki efek samping. Pengolahan obat herbal juga dapat dapat menimbulkan efek samping, tapi lebih kecil dan masih bisa dinetralisir oleh tubuh.
“Kenapa saya bilang masih ada efek sampingnya. Karena herbal ini kan diolah dulu. Ada bahan kimia seperti kapsulnya. Itu yang menimbulkan efek samping. Namun pada dasarnya hanya sekian 0% saja,” papar Henri.
Henri mungungkapkan, bahwa produsen sirih merah tidak hanya mengambil tanaman ini dari kebun orang tuanya karena disana juga sudah banyak petaninya. Produsen membuka peluang pada masyarakat untuk membudidayakan dengan persyaratan yang telah ditentukan. “Kalau yang di kebun ibu saya itu kan tanaman organic menggunakan pupuk kandang, dan tidak disemprot pestisida. Jadi produsen juga n=mensyaratkan seperti itu,” jelasnya.
Harga per unit untuk teh sirih merah sebesar Rp. 55.000,- dan untuk eksraknya Rp. 135.000,-. Karena penjualannya yang melalui media online, Henri mendistribusikan produk herbal ini ke beberapa agen di luar pulau Jawa seperti di kota Medan, Palembang, dan Bontang. Selain agen juga terdapat Reseller yang mem-back up Agen.
Henri Pun menekankan perlu adanya kedisiplinan menjada pola makan dan olah raga.Seperti penderita diabetes, harus disiplin mengurangi asupan gula dan karbohidrat tinggi dan juga diimbangi dengan olah raga. Menurutnya, sumber penyakit ada pada makanan. “Makanan membuat kita sakit karena konsumsinya berlebihan. Makanan Berasal dari alam, pasti obatnya dari alam. Herbal ini bagus karena berasal dari alam juga,” pungkasnya.
Rizki rahmadani.

Share

Darul Mahbar: Lewat Cangkir Mas, jahe merah ke Amerika (3)

Setelah sukses beralih profesi dari seorang pegawai kantoran menjadi pengusaha jahe merah, Darul Mahbar berambisi produknya bisa dinikmati konsumen di seluruh dunia. Langkah awal, ia membangun kemitraan dengan para petani jahe. Selain untuk mengamankan pasokan, petani tak perlu takut jahenya tak laku di pasaran.

Lahir dalam lingkungan keluarga pedagang, sejak kecil, Darul Mahbar sejak kecil bercita-cita ingin menjadi seorang wirausaha-wan sukses. Namun, keinginan tersebut terbentur keinginan orangtuanya yang ingin anaknya hidup mapan dengan bekerja sebagai pegawai di perusahaan.

Seperti kebanyakan orang tua di kampung halamannya, Lubuklinggau, orang sukses adalah yang bekerja di kantor dan memakai dasi. “Tak ada yang mengharapkan anaknya kelak menjadi pengusaha,” ujarnya. Walhasil, Darul pun hanya bisa memendam keinginannya untuk menjadi wirausaha.

Atas saran orang tua dan teman-temannya, Darul pun mengambil kuliah di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi, Universitas Muhamadiyah Malang. Pilihan tersebut didasari pertimbangan agar Darul mudah mencari pekerjaan kelak, selepas kuliah.

Meretas karier di sebuah bank selama 13 tahun, Darul yang kala itu sudah menjadi direktur memutuskan untuk mulai berwirausaha. Apalagi setelah sang ibu meninggal, Darul memahami kalau sejatinya orangtuanya hanya ingin anaknya hidup mapan. “Mereka ingin anaknya tak harus menghadapi risiko dengan memiliki usaha sendiri,” ujarnya.

Siap dan paham dengan risiko yang dihadapi, Darul memutuskan untuk mulai menjadi pengusaha. Menjadi pengusaha baginya adalah bentuk aktualisasi diri.

Darul pun kemudian menjatuhkan pilihan: ia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tak pelak keputusan ini oleh banyak teman maupun saudara Darul sebagai keputusan irasional serta nekat. Apalagi, “Saat itu, saya enggak tahu mau usaha apa,” ujar Darul yang juga memutuskan pindah ke Jakarta untuk berbisnis.

Beruntung, istri Darul bisa memahami dan mendukungnya. Itu pula yang membuat Darul bersemangat memulai usaha. “Tak semua orang punya keberanian seperti saya. Ini hanya masalah karakter orang yang berbeda. Bukan masalah benar atau salah,” tandas Darul tentang keputusannya itu.

Keinginan Darul menjadi semakin kuat ketika ia bergabung dan aktif menjadi anggota Komunitas Tangan di Atas pada tahun 2007. Lewat forum ini, ia bisa bertukar pikiran alias melakukan sharing keinginannya dengan teman-teman anggota komunitas.

Menurut Darul, niatnya menjadi pengusaha bukan untuk mencari kekayaan, tapi untuk tujuan aktualisasi diri serta agar bermanfaat bagi orang lain. “Bagi saya, kesuksesan hidup adalah bisa memberikan sesuatu bagi banyak orang,” ujarnya.

Saat ini, bekerja sama dengan rekannya, Darul tengah berupaya untuk memajukan petani jahe di Wonosobo. Konsep yang ditawarkan adalah pembibitan dan plasma. Hasil panen jahe para petani langsung dibeli oleh Darul. Dengan cara ini, petani dan dirinya bisa saling membantu.

Menurut Darul, memulai usaha dari awal dengan meninggalkan posisi yang ia telah raih selama 13 tahun tidak mudah. Namun, berbekal visi maka ia berani mengambil langkah. “Kita memang harus memulai dari hal yang kecil untuk memulai. Dan, itu harus dilakukan sekarang,” ujarnya.

Bagi seseorang yang ingin menjadi entrepreneur, Darul memberi saran agar mereka tak memikirkan hasil akhirnya, tapi harus menyelami proses usahanya. Pasalnya, dari proses itu pula, seseorang akan belajar menghadapi persoalan atau tantangan. Dalam kondisi tesebut, kreativitas dan potensi yang ada dalam seseorang akan optimal. Berpikir cepat dan taktis juga menjadi suatu keharusan bagi pengusaha. “Ini tak bisa tanpa latihan,” tandasnya.

Ini pula yang kini diterapkan Darul kepada anak-anaknya. Ia memilih membiarkan anak-anaknya untuk menentukan masa depannya. Ia juga tidak melarang jika anaknya ingin menjadi pengusaha. “Yang saya ajari hanya akhlak saja,” ujar ayah tiga anak ini.

Ke depan, Darul berharap agar produk jahe merahnya mendapat tempat di pasar dunia. “Saya ingin produk jahe merah bisa menggantikan minuman beralkohol karena mampu menghangatkan tubuh,” ujarnya.

Dengan fungsi itu serta bebas bahan kimia, saat ini, produk jahe merah dengan merek Cangkir Mas sudah sampai ke Amerika Serikat.

(Selesai)

Sumber: www.kontan.co.id

Share

Darul berbekal peta Jakarta tawarkan dagangan (2)

Setelah hijrah ke Jakarta, Darul Mahbar memulai usaha dengan menjadi pemasok gula aren dari Bengkulu. Seiring berjalannya waktu, ia pun mengintip peluang yang lebih manis dalam bisnis olahan jahe merah. Mulai dari dunia maya, peminat olahan jahe merah Darul kian tumbuh. Atas permintaan konsumen, ia pun melabeli produknya.

Lahir di Lubuklinggau, Sumatra Selatan, 23 Desember 1970, Darul melanjutkan sekolah tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 1989. Di sana, ia menemukan sang pujaan hati yang kemudian menjadi istrinya. Setelah lulus kuliah, Darul pun memutuskan kembali ke kampung halaman dan bekerja di sebuah bank daerah mulai tahun 1995 sebagai account officer.

Setelah bekerja selama hampir 13 tahun di bank tersebut, Darul mengundurkan diri dari profesinya sebagai bankir. Pada 1 Februari 2008, ia resmi mengundurkan diri dengan jabatan terakhir sebagai direktur. “Saya sudah merasa mentok selama bekerja di bank,” akunya.

Ketika ada tawaran dari salah seorang temannya untuk berwirausaha di Jakarta, Darul pun mempertimbangkannya. Ia memutuskan hijrah ke ibukota. Darul menetapkan hati untuk menjadi seorang wirausaha dan meninggalkan jabatannya sebagai direktur karena ia merasa potensi yang dia miliki tidak akan dimanfaatkan optimal kalau tetap menjadi pegawai.

Selain itu, Darul menganggap berada dalam suatu zona nyaman dalam jangka waktu lama justru akan berdampak negatif. “Saya masih ingin terus berkembang,” ujarnya. Apalagi ia merasa hidup di kota kecil tidak akan menambah koneksinya.

Namun, Darul dan temannya sama-sama belum memiliki ide tentang bisnis yang akan mereka kembangkan di Jakarta. Memang banyak kemungkinan usaha di Jakarta, tapi mereka tetap harus mempertimbangkan secara matang.

Darul pun mencoba menjadi pemasok gula batok atau gula aren dari Bengkulu bagi penjual pempek di Jakarta. Selain karena mengenal dengan baik produsen di Bengkulu, Darul juga melihat prospek dari ramainya toko penjual pempek di Jakarta.

Ia merintis sendiri usaha ini dengan mengandalkan peta Jakarta. Darul berkeliling untuk menawarkan pasokan gula aren di hampir seluruh toko pempek di Jakarta. “Saya yang angkut sendiri gula arennya,” kenangnya.

Meski susah, ia banyak belajar dari pengalaman baru selama tiga bulan itu. Darul pun tidak memikirkan posisinya yang dulu mantan direktur bank. Setelah memperoleh beberapa pelanggan tetap, Darul pun tidak perlu berkeliling lagi. Ia cukup mengirimkan gula ke alamat tujuan.

Sambil menjalankan usaha sebagai pemasok gula, Darul juga mencoba jadi pemasok jahe merah. Berawal dari ketidaksengajaan memperoleh pasokan jahe merah yang di bawah standar, ia malah menemukan peluang bisnis yang lebih basah. Dengan menggunakan peralatan seadanya, Darul mengolah bahan jahe merah menjadi minuman hangat yang nikmat. Sebagai langkah awal, ia menawarkan produk olahan jahe merah via internet. “Saat itu ditawarkan dalam bentuk jahe curah, tidak menggunakan merek,” ujarnya.

Ternyata tawaran via dunia maya ini memperoleh respon yang cukup baik, khususnya di Jakarta. Darul sendiri yang langsung turun tangan mengantarkan pesanan olahan jahe merah tersebut. Perlahan tapi pasti, para peminat olahan jahe semakin banyak. Darul mengaku promosinya sangat terbantu media dunia maya yang banyak diakses anak muda.

Darul juga memasarkan produk olahan jahe merah, yang dikemas dalam stoples melalui guru mengaji anaknya. “Produk ini sangat aman dikonsumsi berbagai kalangan,” ujarnya. Responnya sangat baik, bahkan para konsumen meminta produk Darul ini diberi merek.

Hal ini membuat Darul semakin bersemangat mengembangkan bisnis jahe merah. Maka ia pun mulai melakukan riset lebih dalam lagi soal manfaat dan khasiat jahe merah. Informasi yang penting tersebut akan ditempelkan pada label stoples. Darul pun memilih nama Cangkir Mas sebagai merek produknya.

Setelah diberi merek, permintaan produk olahan jahe merah lebih tinggi dibandingkan dengan gula aren yang merupakan bisnis awal Darul. Namun, ia tidak serta merta meninggalkan bisnis gula aren, karena tetap memiliki prospek. “Setidaknya bisnis itu sebagai pijakan awal,” jarnya. (Bersambung)

Sumber: www.kontan.co.id

Share

Darul mengawali usaha dari pasokan jahe berkualitas buruk (1)

Merasa tidak berkembang sebagai salah satu direktur bank daerah, Darul Mahbar banting setir memulai usaha sendiri. Untuk membulatkan tekad, ia pun pindah dari Sumatra Selatan ke Jakarta. Bermula dari usaha pemasok gula batok, Darul mencoba memperlebar usahanya menjadi pemasok jahe merah. Namun ada rintangan.

Kemauan keras serta semangat pantang menyerah merupakan modal utama bagi para pengusaha yang ingin sukses dalam mengembangkan usahanya. Tak terkecuali bagi seorang Darul Mahbar, pengusaha minuman dari jahe merah asal Lubuklinggau, Sumatra Selatan. Memulai usaha dari nol, kini ia memiliki usaha minuman jahe merah merek Cangkir Merah dan Cangkir Mas.

Kini, Darul meraup omzet lebih dari Rp 100 juta per bulan dan memberi lapangan pekerjaan bagi 20 pegawai. Saat ini, berbagai produk buatan Darul sudah tersedia di minimarket Alfamart seluruh Indonesia. Produknya juga sudah sampai di Florida, Amerika Serikat.

Merantau di Jakarta dengan meninggalkan status mapannya sebagai salah satu direktur di bank daerah, Darul mencari tantangan dengan menjadi pengusaha di kota besar.

Setelah sempat membuka usaha dengan menjadi pemasok gula batok bagi toko pempek di Jakarta, lelaki lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini fokus di usaha produksi minuman berbahan jahe merah pada tahun 2008.

Dia menekuni bisnis ini lantaran melihat produk dari jahe merah bakal digemari masyarakat. Maklum, selain berkhasiat menghangatkan tubuh, jahe merah juga memiliki manfaat melancarkan peredaran darah.

Darul yakin peminat produk jahe merah terus meningkat karena masyarakat semakin mengetahui khasiat jahe merah. “Pelanggan saya kebanyakan adalah orang-orang yang memahami pentingnya jahe merah bagi kesehatan,” ujar Darul.

Waktu memulai usaha, ia hanya bisa mengolah sekitar 100 kilogram (kg) hingga 200 kg jahe merah. Saat ini, ia menghabiskan sekitar 500 kg jahe merah tiap hari yang didapatnya dari wilayah Bengkulu, Lampung, Sumatra Selatan dan sebagian di Jawa.

Penjualan dan promosinya juga semakin terbantu dengan menggunakan promosi internet. Ia menjual produk dalam kemasan sachet 25 gram dan stoples 330 gram. Produknya mulai dari jahe merah original, krimer, kopi, jahe merah bubuk, dan teh hijau. Harganya mulai dari Rp 1.700 sampai Rp 29.000.

Darul juga memiliki beberapa gerai bernama Red Ginger Corner yang khusus menyediakan jahe siap minum. Gerai ini sudah ada di Jabodetabek, Jawa Timur, dan Sumatra Barat.

Dari sekian banyak produk olahan jahe merah, menu jahe original yang paling banyak diminta konsumen karena rasanya yang khas. Produknya ini juga diminati hampir semua lapisan masyarakat.

Darul bersyukur, karena keberaniannya meninggalkan kehidupan yang tergolong mapan di kampung halamannya terbayar lunas dengan kesuksesan yang ia raih saat ini. “Saya merasa potensi yang saya miliki tidak akan termanfaatkan dengan baik kalau saya tetap menjadi seorang pegawai,” ujar bapak tiga orang anak ini.

Maka dengan bermodalkan keyakinan tinggi akan meraih kesuksesan serta kerja keras tanpa mengenal lelah, ia pun mengembangkan bisnis minuman berbahan jahe merah hingga sukses.

Awal mula membuka usaha ini juga unik. Ketika masih menjadi pemasok gula batok dari Bengkulu, ia sempat bekerja sama dengan pemasok jahe merah di Bengkulu dan menawarkannya kepada industri pengolahan minuman berbahan baku jahe merah.

Darul pun tertarik ikut menjadi pemasok. Namun, si pemasok jahe merah mengirimkan satu karung jahe merah dengan berat sekitar 25 kg dalam kondisi yang buruk. Darul meyakini pasti bahan-bahan ini akan ditolak. Meski sempat kecewa, Darul tidak mau terlalu larut.

Hampir saja ia membuang jahe-jahe tersebut. Atas saran kakak iparnya, Darul pun mengolah bahan tersebut untuk konsumsi pribadi.

Darul mengolahnya bersama sang istri yang memiliki pengetahuan pengolahan jahe. Setelah jadi, produk-produk tersebut mereka tawarkan secara gratis kepada tetangganya.

Ternyata banyak orang yang menyambut positif hasil olahan tersebut. “Sejak saat itu, kami memutuskan untuk mulai serius menggarap bisnis ini,” kenangnya.

(Bersambung)

Sumber: Kontan.co.id

Share