About Ariz

TDB yang magang sebagai asisten penjaga istana TDA Jakbar.

Tiga Alasan Karyawan Tidak Betah

Tips mengelola karyawan kerapkali disepelekan oleh para pebisnis. Taukah anda biaya mempertahankan karyawan lama lebih murah 6x lipat daripada menggantikan karyawan baru? Tips mengelola karyawan selalu menekankan pada bagaimana menciptakan karyawan yang loyal, mendukung perusahaan dan tentunya sangat produktif.

Salah satu tips mengelola karyawan tremasuk kreatifitas dalam memberi reward kepada karyawan juga tidak kalah pentingnya.Yang pernah saya pelajari selama ini, bahwa menjadi pengusaha sukses harus memiliki kreatifitas yang positif terutama dalam mengelola karyawan yang ada agar mereka bertahan dan tetap produktif.

Reward yang kita maksud sering kali disamakan dengan ‘uang’. Katanya karyawan keluar karena dapat tawaran lebih dari perusahaan lain. Ada yang mengatakan mereka keluar karena jadi pengusaha. Dan masih banyak lagi.

Mengapa uang dijadikan sebuah strategi kreatif untuk mempertahankan karyawan? Karena uang hanya salah satu ukuran yang mudah digunakan sebagai alasan. Memang uang penting, tapi apa alasan terbesar karyawan masih bertahan di perusahaan anda?

Berdasarkan pengalaman yang saya alami selama ini, ada 3 alasan mengapa karyawan anda bertahan :

  • Emosi : Jika bisnis anda memenuhi kebutuhan emosi mereka, bisa karena boss baik hati, selalu ada tantangan, hubungan yang hangat, sering ada surprise, cinta lokasi atau karena teman-temannyacool atau karena gengsi/ kejelasan status. Maka karyawan akan merasa betah, kadang rasa nyaman mengalahkan uang.
  • Kebutuhan pokok : Memenuhi kebutuhan pokok, ongkos, makan, rokok, kos , termasuk belajar hal baru, dll . Kondisi ini berhubungan erat dengan basic salary. Tapi, terkadang, karyawan juga minta perusahaan membiayai gaya hidup mereka. Ini pun gejalanya terjadi akibat emosi yang tidak terpenuhi.
  • Aktualisasi diri: Memenuhi kebutuhan untuk mengaktualisasi diri (ini bagian dari emosi tapi levelnya lebih tinggi dari sekedar status). Saya mengingat betapa seorang teman baik mau berjuang habis-habisan untuk membela atasannya karena ia mendapat kepercayaan penuh untuk menjalankan sebuah departemen.

So, tips mengelola karyawan, jika anda ingin memberikan reward kepada karyawan anda berupa uang, ingat hal ini:

  • Uang tidak ada nilainya jika emosi yang mendasar tidak terpenuhi
  • Cara anda memberi reward lebih penting daripada berapa nilai yang anda berikan
  • Kebutuhan emosi tidak hanya bisa dipenuhi oleh uang

Tiga alasan mengapa karyawan anda pindah singkatnya, karena hampa secara emosi, mulai terhimpit kebutuhan pokok atau sudah tidak ada ruang untuk aktualisasi diri.

Berdasarkan pengalaman pribadi, coaching perusahaan besar atau kecil, alasan terbesar karyawan stay atau move adalah alasan EMOSI. Jika mereka kehilangan feel, excitement, tidak ada tantangan, konflik dst.

Jadi, seberapa kreatif anda sebagai leader menciptakan excitement ketika memberi reward bukan hanya berbentuk uang, tapi juga memenuhi kebutuhan emosi. Semoga tips mengelola karyawan ini berguna untuk sukes Anda.

Dapatkan Billionaire Maker System Assessment, FREE!

HUBUNGI :
iCOACH the Real COACH
Gading Bukit Indah, blok SA 21
Tel : 021 – 29078909
SMS: 0816 4813313
email : tommcifle@topcoachindonesia.com

Sumber: www.TopCoachIndonesia.com

Share

Jumlah Kesibukan Tak Sama dengan Hasil

Untuk menjadi seorang pebisnis yang sukses, anda harus memahami membedakan beberapa hal, yakni usaha dan hasil. Anda harus dapat membedakan kesibukan dengan hasil atau kegiatan dibanding pencapaian.

Anda mungkin saja merasa pekerjaannya banyak. Sibuk sekali. Anda sudah melakukan apa yang sudah di-list; 1, 2, 3, 4, 5, 6. Tapi apakah anda sudah memonitor hasilnya?

Dulu ketika anda SMA diajari tentang teori-teori fisika. Diantaranya teori ini. Work (hasil) adalah force (usaha) dikalikan dengan distance (jarak). Hasil usaha adalah banyakanya usaha dikalikan dengan jarak yang ditempuh.

Ini teori kuno yang saya pikir masih berlaku di kehidupan bisnis kita sekarang. Jadi betapapun kita berusaha keras mendorong gedung, katakanlah ada 100 orang, tapi gedung tetap tidak berpindah. Jadi hasil pekerjaan kita adalah nol besar.

Kita harus belajar dari pengalaman kita. Apakah yang kita lakukan selama ini membawa hasil maksimal. Apa yang kita lakukan saat ini memberikan hasil yang positif buat pekerjaan kita. Kita harus menanyakan pada orang lain. Kita harus belajar pada orang lain, bagaimana orang lain melakukan upaya apa untuk memberikan hasil maksimal seperti yang sudah kita lakukan.

Apakah kita sudah selalu mengecek pekerjaan atau kesibukan kita. Apakah semua itu sudah memberi hasil yang positif? Kalau belum, mungkin sudah waktunya melakukan evaluasi kembali. Apakah strategi kita dalam bertindak salah. Atau apakah cara kita salah? Atau apakah kita memang tidak cocok dengan kegiatan tersebut.

Kita pasti mempunyai kelebihan. Pada saat mempunyai kelebihan itu kita lakukan hal yang terbaik pula. Kita harus bisa membedakan aktivitas dan pencapaian kita. Kesibukan dan pada hasil. Karena tidak selalu sama. Orang yang sibuk kadang-kadang tidak menghasilkan apa-apa. Sebaliknya orang yang kerjanya ringan, sederhana dan menikmati mungkin malah memberikan hasil yang sangat besar dalam kehidupan bisnisnya.

Cobalah menghitung ulang, apakah aktivitas anda sudah sebanding dengan hasil yang dicapai. Karena pada akhirnya dihitung bukan jumlah kesibukan kita, tapi hasil yang di capai.

Sumber: TanadiSantoso.com

Share

Pelatihan dan Pengembangan SDM – Miliki Team Juara

Pelatihan dan pengembangan SDM seringkali dilupakan oleh para pemilik usaha maupun eksekutif puncak. Pada satu sisi pemilik usaha menginginkan sebuah usaha yang sukses dan menguntungkan, di sisi yang lain seringkali mereka lupa untuk menempa team nya menjadi juara. Pelatihan dan pengembangan SDM akan menempa sebuah team yang biasa-biasa saja, menjadi team yang memiliki kualitas pemenang.

Jika seluruh seluruh staff Perusahaan tidak termotivasi dengan baik, tidak mengetahui kemana arah Perusahaan, dan lebih celaka lagi jika mereka hanya bekerja untuk menyambung hidup, maka dapat dipastikan Perusahaan Anda tidak akan menjadi sebuah Perusahaan yang sukses.

Sebuah Perusahaan yang terdiri dari staf dan manajemen yang memiliki motivasi tinggi, tau dengan jelas visi misi Perusahaan, dan tau bagaimana mencapainya, pasti akan menjadi sebuah Perusahaan yang sukses. Pelatihan dan pengembangan SDM adalah alat yang paling efektif untuk menciptakan sebuah team juara. Perusahaan yang sukses adalah Perusahaan yang menginvestasikan budget yang cukup untuk melatih dan memastikan para staff dan manajemennya tau bagaimana mencapai sukses.

Konsultasikan kebutuhan pelatihan staf dan manajemen Perusahaan Anda kepada seorang Konsultan Perusahaan yang sudah berpengalaman dan memiliki track record yang baik. Selidiki para klien dari seorang Konsultan Perusahaan yang ingin Anda pakai jasanya. Tanyakan kepada orang-orang yang sudah pernah menjadi klien mereka, apakah mereka puas, apakah yang disarankan berhasil menjadikan Perusahaan mereka sukses. Jika Anda salah memilih seorang Konsultan Perusahaan, bukan hanya Anda akan membuang waktu dan dana yang tidak sedikit, mungkin saja usaha Anda akan menjadi lebih terpuruk.

Seorang Konsultan Perusahaan yang kompeten akan dapat membantu pemilik usaha dan top management untuk menganalisa di bidang-bidang mana Perusahaan Anda harus dibenahi. Hal seperti ini sulit dilakukan jika pemilik usaha maupun top management “melihat dari dalam”.

Pelatihan dan pengembangan SDM adalah sebuah investasi yang tidak boleh dilupakan oleh para pemilik usaha dan top management suatu Perusahaan yang ingin bertahan dan sukses di bidang usahanya masing-masing. Dunia usaha sekarang semakin kompetitif dan memerlukan terobosan-terobosan baru, dan tidak dapat hanya mengandalkan cara mengelola bisnis dengan gaya lama. Pastikan seluruh Perusahaan Anda menjadi Team Juara dan jadikan bisnis Anda sukses secepat mungkin.

Email ke clientcare@benabadi.com untuk mendapatkan Konsultasi GRATIS untuk memastikan Perusahaan Anda menjadi sebuah Profitable Business.

Sumber: www.BenAbadi.com

Share

Darul Mahbar: Lewat Cangkir Mas, jahe merah ke Amerika (3)

Setelah sukses beralih profesi dari seorang pegawai kantoran menjadi pengusaha jahe merah, Darul Mahbar berambisi produknya bisa dinikmati konsumen di seluruh dunia. Langkah awal, ia membangun kemitraan dengan para petani jahe. Selain untuk mengamankan pasokan, petani tak perlu takut jahenya tak laku di pasaran.

Lahir dalam lingkungan keluarga pedagang, sejak kecil, Darul Mahbar sejak kecil bercita-cita ingin menjadi seorang wirausaha-wan sukses. Namun, keinginan tersebut terbentur keinginan orangtuanya yang ingin anaknya hidup mapan dengan bekerja sebagai pegawai di perusahaan.

Seperti kebanyakan orang tua di kampung halamannya, Lubuklinggau, orang sukses adalah yang bekerja di kantor dan memakai dasi. “Tak ada yang mengharapkan anaknya kelak menjadi pengusaha,” ujarnya. Walhasil, Darul pun hanya bisa memendam keinginannya untuk menjadi wirausaha.

Atas saran orang tua dan teman-temannya, Darul pun mengambil kuliah di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi, Universitas Muhamadiyah Malang. Pilihan tersebut didasari pertimbangan agar Darul mudah mencari pekerjaan kelak, selepas kuliah.

Meretas karier di sebuah bank selama 13 tahun, Darul yang kala itu sudah menjadi direktur memutuskan untuk mulai berwirausaha. Apalagi setelah sang ibu meninggal, Darul memahami kalau sejatinya orangtuanya hanya ingin anaknya hidup mapan. “Mereka ingin anaknya tak harus menghadapi risiko dengan memiliki usaha sendiri,” ujarnya.

Siap dan paham dengan risiko yang dihadapi, Darul memutuskan untuk mulai menjadi pengusaha. Menjadi pengusaha baginya adalah bentuk aktualisasi diri.

Darul pun kemudian menjatuhkan pilihan: ia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tak pelak keputusan ini oleh banyak teman maupun saudara Darul sebagai keputusan irasional serta nekat. Apalagi, “Saat itu, saya enggak tahu mau usaha apa,” ujar Darul yang juga memutuskan pindah ke Jakarta untuk berbisnis.

Beruntung, istri Darul bisa memahami dan mendukungnya. Itu pula yang membuat Darul bersemangat memulai usaha. “Tak semua orang punya keberanian seperti saya. Ini hanya masalah karakter orang yang berbeda. Bukan masalah benar atau salah,” tandas Darul tentang keputusannya itu.

Keinginan Darul menjadi semakin kuat ketika ia bergabung dan aktif menjadi anggota Komunitas Tangan di Atas pada tahun 2007. Lewat forum ini, ia bisa bertukar pikiran alias melakukan sharing keinginannya dengan teman-teman anggota komunitas.

Menurut Darul, niatnya menjadi pengusaha bukan untuk mencari kekayaan, tapi untuk tujuan aktualisasi diri serta agar bermanfaat bagi orang lain. “Bagi saya, kesuksesan hidup adalah bisa memberikan sesuatu bagi banyak orang,” ujarnya.

Saat ini, bekerja sama dengan rekannya, Darul tengah berupaya untuk memajukan petani jahe di Wonosobo. Konsep yang ditawarkan adalah pembibitan dan plasma. Hasil panen jahe para petani langsung dibeli oleh Darul. Dengan cara ini, petani dan dirinya bisa saling membantu.

Menurut Darul, memulai usaha dari awal dengan meninggalkan posisi yang ia telah raih selama 13 tahun tidak mudah. Namun, berbekal visi maka ia berani mengambil langkah. “Kita memang harus memulai dari hal yang kecil untuk memulai. Dan, itu harus dilakukan sekarang,” ujarnya.

Bagi seseorang yang ingin menjadi entrepreneur, Darul memberi saran agar mereka tak memikirkan hasil akhirnya, tapi harus menyelami proses usahanya. Pasalnya, dari proses itu pula, seseorang akan belajar menghadapi persoalan atau tantangan. Dalam kondisi tesebut, kreativitas dan potensi yang ada dalam seseorang akan optimal. Berpikir cepat dan taktis juga menjadi suatu keharusan bagi pengusaha. “Ini tak bisa tanpa latihan,” tandasnya.

Ini pula yang kini diterapkan Darul kepada anak-anaknya. Ia memilih membiarkan anak-anaknya untuk menentukan masa depannya. Ia juga tidak melarang jika anaknya ingin menjadi pengusaha. “Yang saya ajari hanya akhlak saja,” ujar ayah tiga anak ini.

Ke depan, Darul berharap agar produk jahe merahnya mendapat tempat di pasar dunia. “Saya ingin produk jahe merah bisa menggantikan minuman beralkohol karena mampu menghangatkan tubuh,” ujarnya.

Dengan fungsi itu serta bebas bahan kimia, saat ini, produk jahe merah dengan merek Cangkir Mas sudah sampai ke Amerika Serikat.

(Selesai)

Sumber: www.kontan.co.id

Share

Darul berbekal peta Jakarta tawarkan dagangan (2)

Setelah hijrah ke Jakarta, Darul Mahbar memulai usaha dengan menjadi pemasok gula aren dari Bengkulu. Seiring berjalannya waktu, ia pun mengintip peluang yang lebih manis dalam bisnis olahan jahe merah. Mulai dari dunia maya, peminat olahan jahe merah Darul kian tumbuh. Atas permintaan konsumen, ia pun melabeli produknya.

Lahir di Lubuklinggau, Sumatra Selatan, 23 Desember 1970, Darul melanjutkan sekolah tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 1989. Di sana, ia menemukan sang pujaan hati yang kemudian menjadi istrinya. Setelah lulus kuliah, Darul pun memutuskan kembali ke kampung halaman dan bekerja di sebuah bank daerah mulai tahun 1995 sebagai account officer.

Setelah bekerja selama hampir 13 tahun di bank tersebut, Darul mengundurkan diri dari profesinya sebagai bankir. Pada 1 Februari 2008, ia resmi mengundurkan diri dengan jabatan terakhir sebagai direktur. “Saya sudah merasa mentok selama bekerja di bank,” akunya.

Ketika ada tawaran dari salah seorang temannya untuk berwirausaha di Jakarta, Darul pun mempertimbangkannya. Ia memutuskan hijrah ke ibukota. Darul menetapkan hati untuk menjadi seorang wirausaha dan meninggalkan jabatannya sebagai direktur karena ia merasa potensi yang dia miliki tidak akan dimanfaatkan optimal kalau tetap menjadi pegawai.

Selain itu, Darul menganggap berada dalam suatu zona nyaman dalam jangka waktu lama justru akan berdampak negatif. “Saya masih ingin terus berkembang,” ujarnya. Apalagi ia merasa hidup di kota kecil tidak akan menambah koneksinya.

Namun, Darul dan temannya sama-sama belum memiliki ide tentang bisnis yang akan mereka kembangkan di Jakarta. Memang banyak kemungkinan usaha di Jakarta, tapi mereka tetap harus mempertimbangkan secara matang.

Darul pun mencoba menjadi pemasok gula batok atau gula aren dari Bengkulu bagi penjual pempek di Jakarta. Selain karena mengenal dengan baik produsen di Bengkulu, Darul juga melihat prospek dari ramainya toko penjual pempek di Jakarta.

Ia merintis sendiri usaha ini dengan mengandalkan peta Jakarta. Darul berkeliling untuk menawarkan pasokan gula aren di hampir seluruh toko pempek di Jakarta. “Saya yang angkut sendiri gula arennya,” kenangnya.

Meski susah, ia banyak belajar dari pengalaman baru selama tiga bulan itu. Darul pun tidak memikirkan posisinya yang dulu mantan direktur bank. Setelah memperoleh beberapa pelanggan tetap, Darul pun tidak perlu berkeliling lagi. Ia cukup mengirimkan gula ke alamat tujuan.

Sambil menjalankan usaha sebagai pemasok gula, Darul juga mencoba jadi pemasok jahe merah. Berawal dari ketidaksengajaan memperoleh pasokan jahe merah yang di bawah standar, ia malah menemukan peluang bisnis yang lebih basah. Dengan menggunakan peralatan seadanya, Darul mengolah bahan jahe merah menjadi minuman hangat yang nikmat. Sebagai langkah awal, ia menawarkan produk olahan jahe merah via internet. “Saat itu ditawarkan dalam bentuk jahe curah, tidak menggunakan merek,” ujarnya.

Ternyata tawaran via dunia maya ini memperoleh respon yang cukup baik, khususnya di Jakarta. Darul sendiri yang langsung turun tangan mengantarkan pesanan olahan jahe merah tersebut. Perlahan tapi pasti, para peminat olahan jahe semakin banyak. Darul mengaku promosinya sangat terbantu media dunia maya yang banyak diakses anak muda.

Darul juga memasarkan produk olahan jahe merah, yang dikemas dalam stoples melalui guru mengaji anaknya. “Produk ini sangat aman dikonsumsi berbagai kalangan,” ujarnya. Responnya sangat baik, bahkan para konsumen meminta produk Darul ini diberi merek.

Hal ini membuat Darul semakin bersemangat mengembangkan bisnis jahe merah. Maka ia pun mulai melakukan riset lebih dalam lagi soal manfaat dan khasiat jahe merah. Informasi yang penting tersebut akan ditempelkan pada label stoples. Darul pun memilih nama Cangkir Mas sebagai merek produknya.

Setelah diberi merek, permintaan produk olahan jahe merah lebih tinggi dibandingkan dengan gula aren yang merupakan bisnis awal Darul. Namun, ia tidak serta merta meninggalkan bisnis gula aren, karena tetap memiliki prospek. “Setidaknya bisnis itu sebagai pijakan awal,” jarnya. (Bersambung)

Sumber: www.kontan.co.id

Share